Ditutup: Penerimaan Abstrak

Calon peserta dan pemakalah yang kami hormati, per tanggal 1 September 2014 penerimaan abstrak telah ditutup. Sejak dibukanya penerimaan abstrak kami telah menerima begitu banyak abstrak. Keputusan diterima/tidaknya abstrak yang telah terkumpul akan kami umumkan pada tanggal 5 September 2014. Terima kasih atas antusiasme dan kontribusi dari rekan-rekan sekalian.
Sampai jumpa di Surabaya!
Salam Cities!

Call for Papers: Eco City, Utopis atau Realistis?

poster its corel 10072014

Pembangunan perkotaan yang berkelanjutan bertumpu pada tiga prinsip utama sebagaimana dikemukakan oleh Serageldin, 1996 (dalam Rustiadi dkk, 2009) disebut sebagai “a triangular framework”, yakni Economic Growth, Ecology, dan Equity. Konsep keberlanjutan ini dilihat dari sejauh mana pembangunan di wilayah perkotaan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi, menjaga keseimbangan ekologi, serta mampu mewujudkan pemerataan sosial. Perwujudan konsep keberlanjutan di kota-kota di Indonesia masih jauh dari realitas. Hal ini diakibatkan oleh dinamisnya ciri keruangan perkotaan yang berimplikasi pada permasalahan perkotaan di berbagai dimensi, yakni ekonomi, sosial, lingkungan, maupun kelembagaan untuk pengelolaan kawasan perkotaan, dan utamanya terkait permasalahan terkait ecology/lingkungan hidup. Permasalahan perkotaan pada dimensi lingkungan terlihat dari fenomena perubahan iklim dan pemanasan global, degradasi kawasan lindung, kerusakan ekosistem kawasan pesisir, serta degradasi kualitas lingkungan perkotaan. Terakhir, permasalahan kelembagaan pengelolaan kawasan perkotaan menjadi isu hangat ketika dihadapkan pada desentralisasi dan otonomi daerah yang kontraproduktif dengan diperlukannya koordinasi maupun kerjasama lintas wilayah dan lintas sektoral di sisi yang lain. Kompleksitas permasalahan perkotaan ini mendukung kondisi faktual bahwa kota-kota besar di Indonesia berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Hanya 54,26% penduduk kota-kota di Indonesia yang merasa nyaman tinggal di kotanya (IAP, 2011). Hal ini menunjukkan bahwa kota-kota tersebut masih berada dalam kondisi yang jauh dari karakteristik livable city. Karakteristik kota yang nyaman (livable city) dapat dilihat dari aspek fisik (kemampuannya menyediakan fasilitas perkotaan) maupun aspek non-fisik (kemampuannya mendukung aktivitas ekonomi, sosial, dan pelestarian lingkungan). Adanya prediksi bahwa di masa mendatang sebagian besar penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan, maka kota-kota kini dituntut inovasinya dalam menangani permasalahannya. Pendekatan pemecahan permasalahan perkotaan yang bersifat parsial dan sektoral merupakan dianggap kurang tepat untuk mengatasi permasalahan. Permasalahan perkotaan dari berbagai dimensi memerlukan pendekatan yang bersifat multidimensional dan multidisiplin. Oleh karena itu, merupakan tantangan yang besar bagi kota-kota di Indonesia untuk mampu mengeksplorasi ide-ide baru dalam pemecahan permasalahan perkotaannya.
Tema seminar nasional CITIES 2014 ini adalah Ecocity, Utopis atau Realistis? yang dipilih mengingat urgensinya untuk mengeksplorasi ide-ide kreatif atau inovasi dalam mewujudkan kota yang ekologis.

Sub-sub tema yang akan dibahas dalam Seminar Nasional CITIES 2014 adalah:

  1. Pesisir dan pulau-pulau kecil
  2. Kawasan Perbatasan (sub urban/ Periurban)
  3. Insfrastruktur dan Transportasi Berkelanjutan
  4. Perumahan dan Permukiman Berkelanjutan
  5. Energi Alternatif di Lingkungan Binaan
  6. Mitigasi dan Adaptasi Bencana dan Perubahan Iklim
  7. Ketahanan Energi dan Pangan
  8. Pemodelan Land Use
  9. Perencanaan Partisipasi
  10. Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan
  11. Daya Dukung Dan Daya Tampung Wilayah
  12. Urban Health
  13. Urban Farming

Call for Papers

poster cities 2013_update

CITIES is an annual event hosted by the Department of Urban and Regional Planning, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Since the first time it was held, CITIES has covered a broad range of topics in spatial sciences. This year, CITIES aims to explore the theme ‘Resilient Cities: Beyond mitigation, preparedness, response, and recovery’. Accelerated urbanization, especially in developing countries has put a lot of pressure on the built environment. This, in effect, influences the way the built environment responds to climate change, and natural and man-made disasters.
Disaster and resilience come at a cost. How much is lost, how much are we willing to pay, and how much can we afford to lose when disaster strikes? We search for quantifiable means to measure the amount of losses suffered when disaster strikes, and how much can be saved when mitigation and disaster preparedness schemes are put into practice?
The way we plan our cities and the built environment in general affect the way it performs in providing a safe, controllable, and comfortable content of activities. Spatial planning and urban design are considered as problem-solving methods in the built environment context. Are there possibilities for creative and innovative intervention? To what extent do urban planning and design affect the urban morphology, and what can they do to boost resilience in the built environment?
The term ‘resilient city’ encompasses physical planning and interventions aimed only at the built environment. Resilience can only be achieved and sustained through thorough integration of both the built and the social environments. In this case, we ask: how can communities contribute to creating and improving resilience?
Planning a resilient city is a challenge to urban planning and all disciplines involved in general. CITIES, being a platform to disseminate research and planning practices, invites those who are interested in exploring the questions we pose to participate in the 2013 CITIES International Seminar.

TOPICS

CITIES covers (but not limited to) the following topics:
1. Climate change and its impact on the built environment;
2. Community and stakeholder engagement;
3. Planning concepts: creating, and re-creating urban and regional settings;
4. Contingency planning;
5. Disaster and resilience economics;
6. Disaster risk management;
7. Urban amenities and their role in enhancing resilience;
8. Hazards, vulnerability, and risk mapping and modeling;
9. Land use and transportation modeling;
10. Early warning systems: role and strategies;
11. Environmental carrying capacity;
12. Eco-regions and ecological footprint; and
13. Creative intervention measures